Keistimewaan Kota Makkah Al-Mukarramah

keistimewaan kota mekkah

Hasuna.co.id – Kota Makkah mempunyai karakteristik yang unik dan menarik. Kota Makkah memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kota lainnya. Makkah adalah satu-satunya tujuan orang untuk berhaji. Selain itu, terdapat beberapa ciri yang telah dikhususkan Allah SWT untuknya, di antaranya sebagai berikut:

1. Diperbolehkan Melakukan Shalat di Masjidil Haram Setiap Waktu

Jubair bin Mudi’im r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “wahai Bani Abdi Manaf, atau wahai Bani Abdul Muthalib, apabila kamu semua menjadi penguasa di sini maka janganlah kamu mencegah siapapun untuk tawaf di Baitullah dan juga bersalat pada waktu kapan saja yang ia kehendaki, baik malam maupun siang.” (Al-Fakihy dan Ibnu Majah)

Salim bin Abdillah menyatakan bahwa Ibnu Umar tidak melarang seseorang melakukan tawaf tujuh (putaran) setelah Asar atau setelah Subuh dan menunaikan shalat dua rakaat. (Al-Fakihy)

Mujahid meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Abu Dzar r.a. berkata yang artinya: “aku melihat Rasulullah SAW Memegang dua gelangan pintu Ka’bah, seraya bersabda, “ingatlah, tidak ada salat selepas Asar, ingatlah, tidak ada salat selepas Asar, ingatlah, tidak ada salat selepas Asar, kecuali di Makkah.” (Al-Fakihy).

Ibnu Juraij mendengar Abdullah bin Abi Mulaikah meriwayatkan bahwa beliau pernah melihat Ibnu Abbas r.a. pada hari Tarwiyah melakukan tawaf setelah Asar sebanyak tujuh putaran, kemudian beliau mengerjakan salat dua rakaat, lalu pergi. (Al-Fakihy)

2. Diperbolehkan Melintas di Hadapan Orang Shalat

Dari beberapa hadis yang masyhur dan mutawatir, dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak boleh melintas di hadapan orang yang sedang bersalat. Abu Juhaim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya, “seandainya orang yang melintas di hadapan orang yang sedang bersalat itu mengetahui (dosa) apa yang akan menimpanya, niscaya untuk berdiri selama empat puluh adalah lebih baik baginya dari lewat di hadapan orang yang bersalat”. Abu Nadhar berkata, “aku tidak mengerti empat puluh hari, bulan, ataukah tahun”. (Sunnan Ad-Darimy)

Abu Daud dan lain-lain telah meriwayatkan banyak hadis yang menerangkan bahwa orang yang salat harus melindungi salatnya. Akan tetapi, hukum ini tidak berlaku di Masjidil Haram. Abu Walid bercerita kepada kami bahwa pamannya meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah dari Katsir bin Katsir bin Muthalib bin Abi Wada’ah As-Sahmy dari seorang pemuda di kalangan anggota keluarganya, dari pamannya Muthalib bin Abi Wada’ah As-Sahmy bahwa dia melihat Rasulullah SAW sedang bersalat dekat pintu Bani Sahm, sementara orang banyak melintas di hadapan Baginda SAW dalam jarak kurang dari sejengkal. (Al-Azraqy)

Diriwayatkan dari Katsir bin Katsir bin Muthallib bin Abi Wada’ah As-Sahmy, dari sebagian anggota keluarganya bahwa dia mendengar Muthallib bin Abi Wada’ah r.a. berkata yang artinya, “aku pernah melihat Rasulullah SAW sedang salat di dekat pintu Bani Sham, sementara orang-orang lewat di hadapan baginda, sedangkan antara Baginda SAW dan orang banyak yang bertawaf tidak terdapat sutrah (pembatas).”

Menurut Sufyan, Ibnu Juraij meriwayatkannya dari Katsir bin Katsir, dari bapaknya, dari Muthallib r.a., lalu Sufyan bertanya kepada Katsir, dan Katsir menjawab yang artinya, “sesungguhnya aku memperoleh riwayat itu dari sebagian anggota keluargaku.” (Al-Fakihy)


Baca juga :

Jangan Risau, Ini 7 Rekomendasi Oleh-Oleh Haji Umroh yang Bisa Dibawa Dari Tanah Suci

Inilah 6 Keistimewaan dan Keutamaan Ibadah Umrah


Diriwayatkan dari Mawus, dari bapaknya bahwa beliau berkata yang artinya, “Salat di Makkah tidak boleh terhalang oleh apapun, dan tidak berbahaya terhadap (salat)-mu walaupun seorang perempuan melintas di hadapanmu.” (Al-Fakihy)

Yahya bin Said melihat Abu Bakar r.a. sedang mengerjakan salat, sementara orang banyak melakukan tawaf di hadapannya. Yazid berkata yang artinya, “mereka mengira bahwa dia adalah Abu Bakar bin Abdul Rahman bin Harits bin Hisyam.” (Al-Fakihy)

Diceritakan dari Sofiyah binti Syaibah, ada seseorang wanita sedang bersalat di sisi Baitullah dengan menghadap ke arah Mirfaqah. Kemudian Aisyah r.a. melintas di antara wanita itu dan Mirfaqah, lalu Aisyah r.a. berkata yang artinya, “sesungguhnya salat tidak terhalang, kecuali oleh anjing dan kucing yang hitam.” (Al-Fakihy)

3. Umrah Fardu Tidak Wajib untukPenduduk Mekah

Ibnu Juraij bertanya kepada Atha’, “siapakah yang boleh melakukan haji tamattu’?” Atha’ menjawab, “Allah Azza wa Jalla telah berfirman: demikian itu bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah).” (QS Al-Baqarah [2]: 196)

Adapun kampung-kampung yang berada di sekitar Masjidil Haram, penduduknya tidak boleh melakukan haji tamattu’ karena mereka berdekatan dengan Makkah yang dinaungi oleh dua pohon kurma, dan meliputi Dhahran, Uranah, Dlajnan, dan Raji’i. Sedangkan kampung-kampung yang tidak berada di sekitar Masjidil Haram, penduduknya boleh melakukan tamattu’ jika memang mereka menghendaki, itu pun jika dalam safar (dalam jarak yang diperbolehkan meng-qashar salat).”

Atha’ juga meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas pernah berkata yang artinya, “diperbolehkan meng-qashar salat sampai Thaif, Usfan, Jeddah Ruhath, dan seumpama dengannya.” (Al-Azraqy)

Menurut Amr bin Dinar, sesungguhnya Ibnu Umar r.a. berpendapat bahwa umrah tidak diwajibkan atas penduduk Makkah, dan dia berkata, “mereka setiap hari berada di dalam umrah.” (Al-Fakihy)

Ibnu Abbas mengatakan yang artinya, “umrah tidak diwajibkan atas penduduk Makkah.” Adapun Sufyan berkata yang artinya, “aku tidak pernah melakukan umrah sejak aku tinggal di negeri ini (Makkah).” (Al-Fakihy)

Thawus bin Kaisan mendengar Ibnu Abbas r.a. berkata yang artinya, “wahai penduduk Makkah, tidak mengapa jika kamu sekalian hendak melakukan umrah. Jika kamu sekalian hendak melakukannnya, usahakan agar jarak antara kamu dengan Al-Haram sejauh perut lembah.” (Al-Fakihy)**

 

Penulis: Riza Umami, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Editor: M. Imam Fatkhurrozi

 

 

 

Baca Juga Artikel Menarik dari Hasuna Umrah Jogja

hikmah ibadah haji

Ini Dia 5 Hikmah Ibadah Haji dan Umroh Penting Kita Ketahui

Hasuna.co.id – Hikmah ibadah Haji | HIKMAH adalah pengaruh atau akibat yang timbul pada diri manusia setelah melakukan atau meninggalkan suatu hal. Hikmah itu bisa ada pada hampir setiap hal, termasuk ibadah. Hikmah juga bisa

Sejarah Ka’bah, Awal Mula diBangunnya Tempat Suci di Mekah

Rekomendasi 4 Paket Umroh dari Beberapa Operator

Hampir semua operator selular di Indonesia memberikan penawaran paket khusus untuk ibadah penggunanya yang akan berangkat umroh. Hal ini dilakukan operator untuk memudahkan jemaah umroh Indonesia guna berkomunikasi dengan teman, ataupun keluarga di Tanah Air

Kisah Haji Wada’, Haji Pertama dan Terakhir Nabi Muhammad

Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia. Setiap perbuatan, perkataan, serta gerik-gerik beliau selalu diikuti oleh umatnya. Termasuk ketika beliau melakukan haji untuk pertama dan terakhir kali. Tata cara

KANTOR PUSAT

Jl. Ipda Tut Harsono No.3, Muja Muju, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55165.

KANTOR HASUNA

© 2019 Hasuna Tour All right reserved