Hukum Naik Haji Tapi Berhutang

Hukum Naik Haji Tapi Berhutang

Ibadah haji diwajibkan bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan, baik secara fisik maupun finansial. Tapi fenomena yang terjadi sekarang ini adalah pergi haji dengan jalan berhutang.

Berhutang apabila dilihat dari satu sisi menunjukkan bahwa orang tersebut tidak memiliki kemampuan secara finansial. Namun dari sisi yang yang lain, hal tersebut menunjukkan kemampuan, hanya saja memerlukan sedikit waktu dan untuk mempercepat kemampuan.

Salah satu jalan untuk mempercepat kemampuan tersebut adalah melakukan pinjaman. Hal ini akhirnya menjadi sebuah pertanyaan besar yang berkembang di masyarakat. Banyak yang akhirnya mempertanyakan tentang hukum berhaji dengan cara meminjam uang. Untuk itu, kita akan membahas mengenai pendapat ulama tentang masalah ini.

Apa itu Tawaf

Pendapat Tentang Kebolehan Berhutang Untuk Pergi Haji

Islam tidak memberatkan siapapun untuk bisa berangkat haji. Apabila orang tersebut belum benar-benar memiliki kemampuan untuk pergi ke Tanah Suci, maka orang tersebut belum dikenai wajib haji. Ibnu Ibn Qudamah dalam Al-Mughni karya Ibn Qudamah 4/317 menyampaikan bahwa orang yang hendak naik haji sebaiknya menyiapakan perbekalan dan juga harta untuk menafkahi keluarganya selama ditinggal menunaikan ibadah haji. Nafkah untuk keluarga juga harus diperhatikan karena berkaitan dengan hak manusia. Selain itu, orang tersebut juga harus menyiapkan harta yang lebih sehingga dia mampu melunasi hutangnya.

Jika utang tersebut tidak mengganggu orang tersebut untuk menafkahi keluarga atau orang-orang yang berhak dinafkahi karena orang tersebut punya simpanan yang mencukupi untuk memberi nafkah, maka berhutang untuk naik haji boleh dilakukan. Imam Syafi’i dalam Al-Umm: 2/116 mengatakan bahwa jika orang itu memiliki harta yang banyak, dia boleh menjual sebagiannya atau berhutang (karena yakin dapat membayar hutang yang dipinjamnya.

Jika orang tersebut meminjam hutang dari perseorangan, maka sebaiknya hutang tersebut diselesaikan sebelum pergi menunaikan ibadah haji. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan bahwa kewajiban membayar hutang terhadap perseorangan adalah termasuk dalam tanggungjawab pokoknya seperti halnya nafkah wajib.

Pendapat Tentang Haramnya Hutang Untuk Naik Haji

pergi haji dengan berutang

Ulama berpendapat jika seseorang berhutang pada lembaga keuangan dengan cara mengangsur selama bertahun-tahun dengan cara potong gaji, maka hutang tersebut diperbolehkan dan tidak menghalangi kelayakan seseorang untuk menunaikan ibadah haji.

Namun jika ternyata hutang tersebut dianggap dapat menimbulkan masalah terhadap pembayaran hutang sitematik kepada perbankan dan dapat menyebakan terganggunya posisi keuangannya sehingga bisa menghalangi orang tersebut untuk memberi nafkah bagi keluarganya dan tidak mampu membayar hutangnya pada perbankan, maka orang tersebut tidak layak untuk menunaikan ibadah haji. Bahkan ulama menganggap hal ini dapat membawa kepada sesuatu yang haram. Jika sesuatu diyakini membawa pada sesuatu yang haram, maka hukum naik haji tapi berhutang menjadi haram.

Hal tersebut sebagaimana yang terdapat pada kaidah fiqih “apa-apa yang membawa pada sesuatu yang haram, maka hukumnya adalah haram” (Majma Al-Anhar. 4/251). Hal tersebut juga dapat disamakan dengan larangan mendekati zina. Jika zina saja sudah diharamkan, maka segala hal atau tindakan yang dapat menyebabkan zina adalah haram, seperti misalnya mencium, memeluk, mengedipkan mata, chatting bersyahwat, telepon bersyahwat, dan lain sebagainya. Hal ini sama dengan berangkat haji namun beresiko mengganggu keuangan orang tersebut sehingga tidak dapat memenuhi tanggung jawab memberikan nafkah bagi keluarganya dan mengganggu kewajibannya untuk melunasi hutang pada individu ataupun perbankan, maka hukum haji dengan jalan berhutang adalah haram.

Simak Video ini

Kesimpulan Tentang Hukum Berhaji dengan Cara Berhutang

Kita dapat menyimpulkan bahwa hutang tetap diperbolehkan asalkan orang tersebut mampu melunasi hutangnya. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Syeikh Dr. Abdul Karim bin Abdullah Al-Khudhair. Beliau berpendapat bahwa jika orang tersebut mampu untuk melunasi hutang tersebut, maka Insha Allah tidak mengapa berhutang untuk membiayai ibadah haji. Namun apabila orang tersebut tidak mampu melunasi hutang tersebut, maka hukum asalnya dia tidak wajib untuk berhaji.

Demikianlah pembahasan tentang hukum naik haji tapi berhutang. Semoga informasi ini bermanfaat. Bagi Anda yang ingin segera menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, percayakan saja pada Hasuna Tour, biro perjalanan haji dan umroh Jogja yang telah berpengalaman selama 22 tahun tebih melayani puluhan ribu jamaah haji dan umroh dari seluruh Indonesia. Hasuna Tour merupakan biro perjalanan haji dan umroh Jogja yang telah mengantongi izin resmi dan sertifikat Komite Akreditasi Nasional selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah haji dan umroh.

 

Baca Juga Artikel Menarik dari Hasuna Umrah Jogja

Biaya Haji yang Wajar Untuk Haji Reguler dan Haji Khusus

 Sebelum berangkat ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah haji, salah satu hal yang harus Anda ketahui adalah biaya haji yang wajar, baik untuk haji reguler maupun haji khusus. Jika memang Anda merasa mampu untuk melaksanakannya,

Mengenal 10 Sahabat Nabi yang Utama

Artikel ini akan membahas Mengenal para sahabat nabi. Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan bagi umat muslim. Segala perbuatan dan juga perkataan beliau ditiru dan diamalkan oleh seluruh umat muslim. Namun, Nabi Muhammad SAW juga

4 Ciri-Ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah SAW

4 Ciri-Ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah SAW

Seperti apakah ciri-ciri haji mabrur menurut islam?- Mabrur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah diterima Allah atau baik. Jadi, secara bahasa, haji mabrur adalah haji yang baik atau ibadahnya telah dilaksanakan dengan baik dan diterima

Bolehkah Umroh Saat Hamil? Simak Pembahasannya Berikut ini!

Bolehkah umroh saat hamil? Hal ini menjadi salah satu pertanyaan para wanita, terutama bagi mereka yang sedang mengandung. Sebenarnya umroh dapat dilaksanakan kapan saja, termasuk saat dalam kondisi hamil. Tidak ada larangan bagi wanita hamil

KANTOR PUSAT

Jl. Ipda Tut Harsono No.3, Muja Muju, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55165.

KANTOR HASUNA

© 2019 Hasuna Tour All right reserved