Asal Muasal Air Zam-Zam yang Tak Pernah Kering

Asal muasal air zam-zam- Seusai melakukan ibadah haji di tanah suci, jamaah biasanya akan sibuk mencari oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke tanah suci. Entah untuk simpanan pribadi ataupun dibagikan kepada tetangga dan sanak saudara. Salah satu oleh-oleh yang tidak pernah lupa untuk dibawa pulang adalah air zam-zam. Air yang berasal dari sumur Mekah yang tidak pernah kering tersebut tidak hanya mengandung banyak mineral, melainkan juga dipercaya dapat memberikan banyak khasiat untuk kesehatan tubuh.

Asal Muasal Air Zam-Zam

Asal muasal air zam-zam tidak lepas dari Siti Hajar dan juga Nabi Ismail. Siti Hajar adalah istri dari Nabi Ibrahim. Kala itu di sebuah padang tandus, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istri dan juga anaknya. Melihat kepergian suaminya, Siti Hajar bertanya, “Akan pergi kemanakah kau Ibrahim? Apakah kau tega meninggalkan aku dan anakmu di tempat yang sunyi dan juga tandus ini?”. Karena tidak juga dijawab oleh suaminya, Siti Hajar kembali bertanya, “Adakah kepergianmu ini adalah perintah dari Allah?”. Nabi Ibrahim kemudian mengiyakan pertanyaan dari istrinya tersebut. Siti Hajar kemudian kembali berkata, “Jikalau demikian, pasti Allah tak akan menyia-nyiakan nasib kita.”.

Setelah kepergian Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan juga anaknya mulai merasa kelaparan dan kehausan. Bekal yang diberikan oleh Nabi Ibrahim pun sudah habis. Karena tidak tega melihat Ismail kehausan dan kelaparan, ia akhirnya memutuskan untuk pergi mencari makanan atau minuman. Siti Hajar kemudian bergegas menuju Bukit Shafa. Namun sesampainya di atas, Siti Hajar tidak menemukan apapun.  Siti Hajar turun kembali menuju Bukit Marwah. Namun, tidak juga ia menemukan makanan ataupun minuman.  Kemudian ia kembali ke bukit Shafa, kembali lagi ke Bukit Marwah. Begitu seterusnya hingga tujuh kali. Perjalanan Siti Hajar dari Bukit Shafa ke Bukit arwah tersebut kemudian menjadi salah satu rukun adlam ibadah haji, yaitu Sa’i.

Setelah tujuh kali, tepatnya di Bukit Marwah, Siti Hajar mendengar putranya Ismail menangis. Ia kemudian bergegas kembali untuk melihat putranya. Ketika ia kembali, Ismail sedang menagis sembari menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Dari hentakan kaki ismail tersebut kemudian, mengalirlah air dari dalam tanah. Siti Hajar kemudian berkata, “berkumpulah”, yang dalam bahasa Arab adalah zam-zam. Keberadaan air tersebut kemudian memicu burung-burung datang. Kafilah yang sedang mencari air pun mengikuti rombongan burung tersebut menuju zam-zam.

Penggalian Zam-Zam

Setelah ribuan tahun, air zam-zam diceritakan tertutup karena tidak pernah dirawat. Hingga pada masa kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib, air zam-zam kembali digali.   Kala itu, Abdul Muthalib bernazar akan menggali sumur zam-zam apabila ia dikaruniai sepuluh orang anak serta akan mengorbankan salah satu anaknya.

Doa Abdul Muthalib dikabulkan oleh Allah. Ia dikaruniai sepuluh orang anak. Namun, ia kebingungan. Siapa di antara Anaknya yang harus ia korbankan. Dengan cara diundi, nama Abdullah terpilih. Ia semakin ragu, karena anak bungsunya tersebut begitu ia sayangi. Kemudian seseorang mengusulkan kepada Abdul Muthalib untuk mengundi nama Abdullah dengan unta.

Nama Abdullah diundi berkali-kali dengan unta, namun namanya tetap saja terpilih. Baru ketika Abdul Muthalib menambah unta hingga 100 ekor, nama yang terpilih adalah unta. Setelah itu, Abdul Muthalib mulai melaksanakan nazarnya untuk menggali sumur zam-zam. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa alasan Abdul Muthalib menggali sumur zam-zam dikarenakan ia mendapatkan perintah saat tidur di Hijir Ismail.

Demikianlah asal muasal air zam-zam yang hingga kini banyak dijadikan oleh-oleh jamaah yang berkunjung ke tanah suci. Apabila Anda ingin melihat secara langsung sumur zam-zam dan merasakan air zam-zam secara langsung dalam perjalanan ke tanah suci, Anda dapat menggunakan jasa biro travel haji plus Jogja Hasuna Tour Umroh & Haji. Pengalaman 22 tahun sebagai travel umroh Jogja, tentu saja akan membantu Anda untuk mendapatkan perjalanan yang aman dan menyenangkan.

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Baca Juga Artikel Menarik dari Hasuna Umrah Jogja

Bolehkah Umroh Saat Hamil? Simak Pembahasannya Berikut ini!

Bolehkah umroh saat hamil? Hal ini menjadi salah satu pertanyaan para wanita, terutama bagi mereka yang sedang mengandung. Sebenarnya umroh dapat dilaksanakan kapan saja, termasuk saat dalam kondisi hamil. Tidak ada larangan bagi wanita hamil

HASUNA BIRO UMROH JOGJA DAN HAJI PLUS FURODA (50)

6 Persiapan Fisik Sebelum Umroh yang Perlu Anda Lakukan

Calon jamaah umroh perlu menjalani serangkaian persiapan fisik sebelum umroh. Umroh merupakan ibadah yang membutuhkan kondisi fisik yang begitu prima. Bahkan mulai dari menentukan jadwal penerbangan, mempersiapkan perlengkapan umroh, hingga nantinya menjalankan serangkaian ibadah umroh,

8 Langkah Berangkat Haji Usia Muda

Tanah Suci Mekah merupakan tempat dan pusat peribadahan umat muslim seluruh dunia. Naik haji merupakan salah satu cita cita  banyak orang. Dan haji juga merupakan salah satu rukun islam yang harus dipenuhi bagi yang sudah

Solusi Naik Haji bagi yang Kurang Mampu

Solusi Naik Haji bagi yang Kurang Mampu

Ibadah haji merupakan ibadah yang diwajibkan bagi mereka yang telah mampu secara fisik maupun finansial. Jadi, bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan secara fisik maupun materi, ibadah haji ini tidak diwajib untuk dilaksanakan. lalu bagaimana

Inilah 3 Macam-Macam Haji dan Hukumnya

Inilah 3 Macam-Macam Haji dan Hukumnya

Macam-macam haji- Melaksanakan ibadah haji adalah rukun islam yang kelima. Ibadah haji merupakan salah satu perjalanan spiritual yang dilakukan umat muslim yang mampu, baik fisik maupun materi atau finansial. Berdasarkan pelaksanaannya, terdapat tiga jenis atau